Kata
Pengantar
Puji
syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kemudian tak lupa
pula kami mengirimkan salawat beriring salam pada Nabi besar Muhammad SAW
karena beliau telah berhasil membawa umatnya dari alam kebodohan kepada alam
yang berilmu pengetahuan seperti saat ini.
Dalam
penulisan makalah ini tak luput kami mengucapkan terima kasih kepada
pihak – pihak yang telah membantu saya dalam membuat makalah ini.
saya
menyadari bahwa penulisan makalah yang berjudul ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Makassar, 21 desember 2013
Penulis,
Daftar
Isi
Kata
pengantar
1
Daftar isi 2
Bab 1
Latar belakang 3
Bab 2
Pendekatan
pembelajaran 4
Strategi
pembelajaran 7
Metode
pembelajaran 7
Model
Pembelajaran 9
Daftar pustaka 11
Bab 1
Pendahuluan
A. Latar
Belakang
Usia lahir sampai dengan memasuki pendidikan dasar merupakan
masa keemasan sekaligus masa kritis dalam tahapan kehidupan manusia, yang akan
menentukan perkembangan anak selanjutnya. Masa ini merupakan masa yang tepat
untuk meletakan dasar bagi kemampuan fisik, bahasa, sosial emosional, konsep
diri, seni, moral dan nilai-nilai agama. Sehingga upaya pengembangan seleuruh
potensi anak usia dini harus dimulai agar pertumbuhan dan perkembangan anak
tercapai secara optimal.
Hal tersebut merupakan hak bagi anak, sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan Anak, yang
menyatakan bahwa setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan
berprestasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta
mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Salah satu implementasi
dari hak tersebut, setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pembelajaran
dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan
minat dan bakatnya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka guru/tutor sebagai ujung tombak pendidikan
anak usia dini harus mampu mengembangkan pendekatan, model dan metode
pembelajaran yang mampu mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak, baik
perkembangan intelektual, fisik, maupun perkembangan mental-emosionalnya. Dalam
hal ini, pemilihan dan penyusunan model dan metode pembelajaran harus disesuaikan
dengan tujuan pembelajaran dan sarana belajar yang tersedia.
Bab 2
Pembahasan
A. Pembahasan
1. Pendekatan
Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan
sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang
merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih
sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari
metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered
approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat
pada guru (teacher centered approach).
Secara khusus pendekatan
yang dilakukan dalam PAUD biasanya menggunakan :
a. Pendekatan
High Scope
Pendekatan High/Scope dikembangkan oleh
David Weikart. High Scope mulai digunakan tahun 1962. Digunakan studi
longitudinal sampai seseorang berusia 40 tahun. Studi ini menyebutkan bahwa
anak memiliki hubungan sosial dan emosional yang baik. Program ini melibatkan
anak sebagai pembelajar aktif yang memberikan kesempatan pada anak untuk
memilih sendiri aktivitas bermainnya.
High/Scope memiliki komponen penting,
yaitu:
1) Anak sebagai
pembelajar aktif yang menggunakan sebagian besar waktunya di dalam learning center yang
beragam.
2)
Merencanakan-melakukan-mengulang (plan-do-rewind)
Guru membantu anak untuk memilih apa yang akan mereka
lakukan setiap hari, melaksanakan rencana mereka dan mengulang kembali yang
telah mereka pelajari.
3)
Pengalaman kunci (key experience)
Pengalaman-pengalaman penting anak dipakai untuk
pembelajaran.
4)
Penggunaan catatan anekdot untuk mencatat kemajuan yang diperoleh anak.
Pendekatan High/Scope memiliki 5 unsur yang mendukung
pembelajaran aktif anak, yaitu:
1) Benda-benda yang dapat
dieksplor anak.
2) Manipulasi benda-benda oleh anak.
3) Pilihan bagi anak tentang apa yang
harus dilakukan anak.
4) Bahasa anak.
5) Dukungan dari dan oleh orang
dewasa.
b. Pendekatan
Beyond Centre and Circle Time/BCCT
Pendidikan Anak Usia Dini dapat
menggunakan pembelajaran dengan pendekatan Beyond Centers and Circle Time (BCCT), atau dalam bahasa Indonesia adalah Lebih Jauh Tentang Sentra
dan Saat Lingkaran Kegiatan bermain sambil belajar pada sentra-sentra (sentra persiapan,
peran makro, mikro, balok, imtaq, seni, dan sentra bahan alam), dalam rangka
mengembangkan seluruh potensi kecerdasanan anak.
Anak dituntut aktif dan kreatif dalam
kegiatan sentra-sentra dan pendidik berperan sebagai motivator dan fasilitator
memberi pijakan-pijakan (scaffolding). Pijakan yang diberikan sebelum
dan sesudah anak yang bermain dalam settingduduk melingkar sehingga dikenal sebagai saat
lingkaran. Pijakan lainnya adalah pijakan lingkungan (penataan lingkungan), dan
pijakan pada setiap anak dilakukan selama anak bermain (Ditjen Dikluspa, 2005).
Pendekatan ini dikembangkan olehCreative Pre School Florida Amerika Serikat dan mulai dikembangkan juga di
Indonesia. Metode ini merupakan pengembangan dari metode Montessori, High Scope
dan Reggio Emilio, yang menfokuskan kegiatan anak-anak di sentra-sentra,
sudut-sudut, atau area-area untuk mengoptimalkan seluruh kecerdasan anak.
c. Pendekatan Reggio Emilia Approach/REA
Pendekatan REA ini berkomitmen
“menciptakan kondisi pembelajaran yang akan mendorong dan memfasilitasi anak
untuk membangun kekuatan berpikirnya sendiri melalui penggabungan seluruh
bahasa ekspresif, komunikatif, dan kognitifnya” (Edward & Forman, 1993).
REA diciptakan oleh
Loris Malaguzzi dan para orang tua di daerah sekitar Reggio Emilia di Italia
setelah Perang Dunia II. Saat itu, karena jumlah angkatan kerja pria berkurang
akibat perang, para wanita terpaksa menjadi tenaga kerja di pabrik-pabrik dan
industri. Ditambah dengan kondisi penuh kehancuran, para orang tua merasa perlu
ada pendekatan baru terhadap cara mengajar anak-anaknya. Para orang tua ini
merasa bahwa pada tahun-tahun awal perkembangan anaknyalah mereka membentuk
diri mereka sebagai seorang individu. Berangkat dari pemikiran inilah lalu
diciptakan sebuah program yang berprinsip rasa hormat, tanggung jawab dan
kebersamaan melalui eksplorasi di dalam lingkungan yang suportif dan memperkaya
minat anak.
Pada dasarnya REA
menganggap anak-anak adalah pembelajar kompeten sehingga model kurikulum yang
dijalankan bisa diarahkan oleh anak-anak itu sendiri. Kurikulum memiliki
catatan proses dengan tujuan-tujuan tertentu, tapi tidak memiliki batasan
cakupan maupun urutan tertentu. Guru mengikuti minat anak-anak dan tidak memberikan instruksi-instruksi
standar dan konvensional. REA sangat percaya bahwa anak-anak belajar melalui
interaksi dengan teman, orang tua, guru serta interaksi dengan lingkungan
tempat belajarnya.
d. Pendekatan Montessori
Tujuan pendidikan Montessori adalah
mengoptimalkan seluruh kemampuan anak melalui stimulasi yang dipersiapkan. Guru
perlu membuat perencanaan secara rinci dan mempersiapkan lingkungan
pembelajaran yang tenang dan teratur agar anak merasa nyaman untuk belajar.
Kelas yang terdiri dari bermacam usia
membuat anak dapat belajar dari kawan yang usianya lebih tua di samping dari
gurunya sendiri. Walaupun anak belajar secara individual, tetapi ia tetap dilatih agar bisa
mandiri. Lingkungan dipersiapkan dengan materi yang telah terstruktur,
misalnya:
a. Materi sensorial
Anak berlatih untuk memperluas dan
memperhalus persepsi sensorinya. Materi yang digunakan adalah alat-alat yang
mengandung konsep tentang ukuran, bentuk, warna, suara, tekstur, bau, berat
ringan, dll.
b. Materi konseptual
Materi ini menggunakan bahan-bahan
konkret untuk melatih anak membaca, menulis, matematika dan pengetahuan sosial.
c. Materi kehidupan
praktis
Materi pembelajaran yang diberikan
banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya menyapu lantai, mencuci
piring, menyiram tanaman, mengancingkan baju, dll. Pendekatan Montessori menggunakan bahan-bahan yang dapat dimainkan anak,
namun di dalam pendekatan ini tidak memberikan anak di bawah 6 tahun untuk
berfantasi. Padahal jika anak bermain, maka salah satu unsur bermain adalah
berfantasi (berpura-pura). Dengan demikian di dalam pendekatan ini anak tidak
dapat bermain secara bebas, tetapi sangat terstruktur sehingga imajinasinya
tidak berkembangang. Pengaruh guru untuk memberikan mainan yang sudah terpola
dan berurutan secara ketat membatasi kreatifitas anak dalam mengeksplorasi
mainannya. Dengan anak belajar secara mandiri, maka kesempatan anak untuk
berinteraksi dengan teman sangat terbatas.
2. Strategi Pembelajaran
Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan
bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus
dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif
dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya
(2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna
perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual
tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan
pembelajaran.
Jenis-jenis strategi pembelajaran umum
tersebut adalah: (1) meningkatkan keterlibatan indra, (2) mempersiapkan isyarat
lingkungan, (3) analisis tugas, (4) scaffolding, (5) praktik terbimbing, (6)
undangan/ajakan, (7) refleksi tingkah laku/tindakan, (8) refleksi kata-kata,
(9) contoh atau modelling, (10) penghargaan efektif), (11) menceritakan/menjelaskan/menginformasikan,
(12) do-it-signal, (13) tantangan, (14) pertanyaan, dan (15) kesenyapan.
Strategi-strategi pembelajaran tersebut dapat diintegrasikan atau digabungkan
dalam keseluruhan proses pembelajaran, sehingga tercipta kegiatan belajar yang
lebih bervariasi.
3. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dapat diartikan
sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah
disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
Macamnya adalah sebagai berikut :
1) Metode Keteladanan
Keteladanan merupakan bahan utama dalam pendidikan,
karena mendidik bukan sebatas penyampaian materi saja, melainkan membangun
karakter dalam setiap jiwa peserta didik, oleh karena itu pendidik mempunyai
tanggung jawab yang tinggi terhadap peserta didik mengenai tingkah laku dan
perbuatannya yang dapat dibuat contoh dan diikutinya.
2) Metode Lemah Lembut / Kasih sayang
3) Metode Deduktif
4) Metode Demontrasi
5) Metode Eksperimen
6) Metode Pemecahan Masalah
Pendekatan pemecahan masalah berangkat
dari masalah yang harus dipecahkan melalui praktikum atau pengamatan. Dalam
pendekatan ini ada dua versi. Versi pertama siswa dapat menerima saran tentang
prosedur yang digunakan, cara mengumpulkan data, menyusun data, dan menyusun
serangkaian pertanyaan yang mengarah ke pemecahan masalah. Versi kedua, hanya
masalah yang dimunculkan, siswa yang merancang pemecahannya sendiri. Guru
berperan hanya dalam menyediakan bahan dan membantu memberi petunjuk.
7) Metode Diskusi&Tanya Jawab
Untuk lebih mendalam dalam pemahaman meteri maka
dimunculakan diskusi atau dialog yang dikemas dengan tanya jawab. Diskusi atau
dialog harus dilaksanakan dengan cara yang baik. Cara yang baik ini perlu
dirumuskan lebih lanjut, sehingga timbullah etika berdiskusi, misalnya tidak
memonopoli pembicaraan, saling menghargai pendapat orang lain, kedewasaan
pikiran dan emosi, berpandangan luas dan sebagainya.
8) Metode Pujian / Pemberian Kegembiranaan
9) Metode Hukuman
10) Metode Pembiasaan
Menjadikan pembiasaan sebagai sebuah metode pendidikan
memang sangat tepat, dalam pembiasaan peserta didik tidak dituntut secara serta
merta menguasai sebuah materi dan melaksanakannya, memang dalam pemahaman
sangat gampang namun dalam pengamalan yang agak sulit untuk terealisasikan,
maka dari itu dibutuhkan sebuah proses dalam mencapainya, yaitu, melalui
pembisaan.
11) Metode Kisah-Kisah
Metode cerita atau kisah dianggap efektif dan mempunyai
daya tarik yang kuat sesuai dengan sifat alamiah manusia yang menyenangi
cerita. Metode cerita sering kali dipakai oleh para pengajar terutama
dijenjang pendidikan kanak-kanak (TK). Namaun diakui atau tidak peserta didik
sangat senang ketika mendengarkan gurunya bercerita, termasuk juga mahasiswa.
12) Metode Perbandingan
4. Model Pembelajaran
Model pembelajaran pada
dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir
yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran
merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan
teknik pembelajaran.
Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi
Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok
model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan
informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah
laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran
tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Ada juga
model pembelajaran baru hasil pengembangan dan improvisasi pendidik disesuaikan
dengan kebutuhan anak dan kebudayaan negara, yaitu :
1) Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter
Dikembangkan oleh Ratna Megawangi, PhD pendiri Indonesia
Heritage Foundation. Model pendidikan ini menerapkan teori-teori sosial, emosi,
kognitif, fisik, moral, dan spiritual. Model ini diharapkan dapat memampukan
setiap anak untuk berkembang sebagai individu yang terintegrasi dengan baik
(secara spiritual, intelektual, sosial, fisik, dan emosi, yang berpikir kreatif
secara mandiri, dan bertanggung jawab). Pendidikan Holistik Berbasis
Karakter bertujuan untuk membangun seluruh dimensi manusia dengan pendekatan
pada pengalaman belajar yang menyenangkan dan inspiratif untuk anak-anak.
2) Model Pembelajaran Atraktif
Tujuan pokok dari pengembangan Paud
atraktif ialah mengembalikan dan menempatkan Paud pada fungsinya yang hakiki
sebagai sebuah taman.
Secara khusus, pengembangan Paud
atraktif bertujuan untuk:
a. Menanamkan filosofi pelaksanaan
pendidikan di PAUD. Filosofi pendidikan anak usia dini telah disusun dan
dituangkan dalami pelaksanaan pendidikan anak usia dini dengan berbagai bentuk
kegiatan yang indah, menarik dan menyenangkan anak. “Tempat bermain”, yaitu
melalui bermain anak akan “berteman banyak”, urrtuk mempelajari karakter,
keinginan, sikap, dan gayatingkah laku masing-masing.
b.
Menyebarkan wawasan tentang pelaksanaan pendidikan anak usia dini yang atraktif. Tingginya derajat penyimpangan Paud mengharuskan perlunya secara intensif penyebaran
wawasan dan pemahaman tentang makna dan proses pendidikan anak usia dini
atraktif.
c. Mengubah sikap dan perilaku
pengasuh yang belum sesuai dengan kerakteristik pendidikan anak usia dini.
d. Mendorong munculnya inovasi dan
kreativitas pengasuh dalam menciptakan dan mengembangkan iklim pendidikan yang
kondusif di Paud.
Ada 3 prinsip yang menjadi dasar
pendidikan ini, yaitu sebagai berikut :
a. Pendidikan anak usia dini menekankan pada pengamatan
alam. Semua pengetahuan bersumber pada pengamatan. Pengamatan seorang anak pada
sesuatu akan menimbulkan pengertian. Pengertian yang baru akan bergabung dengan
pengertian lama dan membentuk pengetahuan. Dan pendidikan di kembali ke alam (back
to nature), atau sekolah alam. Inti utamanya adalah mengajak anak melakukan
pengamatan pada sumber belajar di lingkungan sekitar.
b. Menumbuhkan keaktifan jiwa raga anak. Melalui
keaktifan anak maka ia akan mampu mengolah kesan pengamatan menjadi
pengetahuan. Keaktifan juga akan mendorong anak untuk berinteraksi dengan
lingkungan sehingga merupakan pengalaman langsung dengan lingkungan. Pengalaman
interaksi ini akan menimbulkan pengertian tentang lingkungan dan selanjutnya
akan menjadi pengetahuan baru.
c. Pembelajaran pada anak usia dini harus berjalan
secara teratur setingkat demi setingkat atau bertahap. Prinsip ini sangat cocok
dengan kodrat anak yang tumbuh dan berkembang secara bertahap. Pandangan dasar
tersebut membawa konsekuensi bahwa bahan pengembangan yang diberikan harus
disusun secara bertahap, dimulai dari bahan termudah sampai tersulit, dari
bahan pengembangan yang sederhana sampai yang terkompleks.
Ciri khas pandangan pendidikan anak
usia dini atrakfif yaitu melalui adanya pengajaran suara, bentuk dan bilangan.
DAFTAR PUSTAKA